Biografi Pendiri Pondok Pesantren Miftahul Huda
''KH.M.S Abdul Wahab''
Pondok
Pesantren Miftahul Huda didirikan dan diasuh oleh seorang kyai yang kharismatik
yaitu KH.Ms. Abd. Wahab.
Beliau bukan asli penduduk Mojosari, melainkan pendatang dari Jawa Tengah.
Beliau dilahirkan pada tanggal 15 Agustus 1925
dengan nama lengkap Muhammad Sueb Abdul Wahab dari pasangan suami istri
Mohammad Najamudin dengan Salamah. Beliau mempunyai dua nama yang dijadikan
satu. Nama Muhammad Su’eb adalah nama pemberian dari bapaknya Najamudin,
sedangkan Abdul Wahab adalah nama pemberian dari kakeknya yang bernama Imam
Turmuji. Desa kelahiran beliau adalah desa Bayem kecamatan Kutoarjo kabupaten
Purworejo Jawa Tengah. Beliau merupakan anak yang terakhir dari enam saudara.
Semasa
remaja beliau tidak pernah mendapatkan pendidikan formal selayaknya pendidikan
yang ada sekarang, yang memungkinkan darimana dan dari keturunan siapa saja
dapat memperoleh hak untuk belajar atau mendapatkan pendidikan yang sama. Tidak
sama halnya dengan yang beliau alami sekitar tahun 1940-an dimana saat itu
Indonesia masih dijajah Belanda. Pendidikan saat itu sangat mahal dan sulit
bagi penduduk pribumi. Sehingga pendidikan masa remaja beliau hanyalah
pendidikan yang didapat dari belajar ilmu agama didikan orang tua sendiri, dan
juga belajar di surau-surau yang ada di desa beliau waktu itu. (Hasil dari
wawancara beliau tanggal 23 Agustus 2010).
Pada
saat beliau berumur 12 tahun yaitu tahun 1937, beliau dikirim oleh
orangtua-nya ke pondok Krempyang Tanjunganom Nganjuk untuk mencari ilmu. Namun
di pondok ini beliau tidak lama baru tiga bulan kemudian beliau pulang dengan
alasan tidak terbiasa dengan kehidupan di pondok pesantren. Dua tahun
berikutnya, tepatnya tahun 1939 beliau berangkat lagi ke pondok yang sama,
tetapi untuk yang kedua kalinya tidak lama juga beliau meninggalkan pondok
dengan alasan yang tak jauh beda. Berikutnya kurang lebih satu tahun beliau
berada di rumah yaitu tahun 1940 orang tua beliau mengirimkan lagi ke pondok
yang sama (pondok Krempyang) dan untuk yang ketiga kalinya dengan alasan
yang tak jauh beda pula dan ditambah biaya yang kurang, beliau pulang ke
kampung halaman.
Tahun
1950-an beliau sekolah PBH (Pemberantasan Buta Huruf) disinilah beliau mengenal
huruf latin dan sedikit bahasa Indonesia. Semula beliau menganggap, “
Sekolah untuk apa ?” Kakak dan orang tua saya tidak sekolah juga dapat
mencari makan dan dapat bekerja” kata beliau.
Dengan
bekal sekolah di PBH, semasa pemilu tahun 1955 beliau berkesempatan untuk
menjadi ketua P3S (ketua KPPS) dengan hanya bisa baca dan menulis huruf latin
saja, karena saat itu sangat sulit mencari orang yang bisa membaca dan menulis
huruf latin. Pada saat itu beliau sangat prihatin, dimana sulitnya mencari
orang Islam yang dapat membaca dan menulis huruf latin (pendidikan umum) untuk
dijadikan panitia pemilu. Kondisi inilah yang menjadi motifasi dan latar
belakang beliau untuk membentuk pendidikan yang dibina nanti, beliau ingin
mendirikan lembaga pendidikan yang paralel antara pendidikan agama dan
pendidikan umum.
Menjelang
usia 30 tahun beliau berangkat lagi kepondok yang sama (Pondok Pesantren
Darussalam Krempyang Tanjunganom Nganjuk). Pada usia dimana menurut usia ukuran
belajar saat ini terlambat, tidak menjadikan beliau kecil hati terhadap
para santri yang usianya relatif lebih muda dan cukup sesuai beliau di pondok
waktu itu, sehingga tidak pulang-pulang lagi seperti sebelumnya. Satu hal yang
tidak dapat dilupakan oleh beliau sebagai nostalgia (kata beliau) yaitu semasa
belajar di pondok pesantren, santri atau teman-teman santri lain memanggil
beliau dengan “Mbah Wahab” karena usia beliau saat itu kurang
lebih 30 tahun. Merupakan usia paling tua diantara santri-santri yang lain.
Patut
diteladani dan diikuti yaitu ketekunan dan kemandirian beliau dalam belajar.
Pada waktu beliau belajar di madrasah Mu’alimin Darussalam Krempyang, beliau
lebih banyak belajar mandiri.(Wawancara beliau tanggal 23 Agustus 2010). Hal
semacam ini membuat beliau menyelesaikan materi disetiap kelas sebelum waktunya
dan dinaikkan kelas tidak secara berkala tetapi tiap cawu atau semester oleh
guru beliau (keterangan hasil wawancara dari Kiyai Nastain Urek-urek Gondang
legi yang merupakan keponakan beliau dan temen beliau mondok, tanggal 25
Agustus 2010).
Secara
singkat beliau belajar di pondok pesantren secara efektif kurang lebih 22 bulan
(antara tahun 1955 – 1957). Pada tahun 1957 sampai 1959 beliau melakukan
semacam PPL (latihan mengajar), di tahun itu juga beliau mengikuti pendidikan
formal (umum) dan mendapatkan ijazah Mu’alimin Darussalam Krempyang. Tahun 1961
beliau ditugaskan untuk mengajar di pondok yang didirikan oleh alumni Krempyang
di Kricaan Mesir, kecamatan Salam Muntilan Magelang Jawa Tengah. Di pondok
tersebut beliau diberi mandat penuh oleh kyai karena pengasuh pondok tersebut
(kyai Nur Salim) masih dalam keadaan sakit. Di pesantren inilah beliau bertemu
dan mengajar seorang santri yang bernama Husen dari Malang Jawa Timur. Yang
selanjutnya berlanjut pada tahun 1962 dengan berkunjungnya beliau kediaman santrinya
yang ada di desa Mojosari kecamatan Kepanjen kabupaten Malang Jawa Timur dan
pada akhirnya dapat membina ajaran pendidikan Islam di Mojosari sampai sekarang.
1. Latar Belakang dan Sejarah
Berdirinya Pondok Pesantren Miftahul Huda
Masyarakat
desa Mojosari kecamatan Kepanjen kabupaten Malang dimana Pondok Pesantren
Miftahul Huda didirikan, merupakan suatu masyarakat yang heterogen, baik latar
kehidupan, mata pencaharian dan pendidikan. Namun mayoritas penduduk Mojosari
beragama Islam ± 98%.
Dari komposisi masyarakat terutama klasifikasi penduduk terhadap agama desa
Mojosari sekitar tahun 1962 (awal datang kyai Abdul Wahab) pelaku Islam fanatik
sekitar 5% selebihnya Islam KTP yang masih suka menjalankan adat kebiasaan yang
melanggar dan menyimpang dari norma agama Islam. Misalnya : judi, minum-minuman
keras, dan mengadakan tontonan rakyat. Dengan kompleknya permasalahan di daerah
ini, maka tidaklah mudah bagi seorang ustadz (muballigh) mengembangkan syiar
Islam disini.
Maka menurut penuturan beliau ada beberapa kyai yang bertabligh di desa
Mojosari sebagaimana yang diungkapkan oleh beliau:
“Sebelum
kedatangan saya di desa Mojosari terdapat ada 9 kyai yang bertabligh dan
mengembangkan agama Islam di desa Mojosari mereka diantaranya; Kyai Marhaban
dari Surabaya, Kyai Maskuri dari Sutojayan Pakisaji, kyai Mahfudz dari Dilem
Kepanjen, Kyai Santoso dari Solo, kyai Jamburi dari Ketapang Kepanjen dan kyai
Mawardi dari Blitar. Kesemuanya rata-rata bertabligh tidak lebih dari 9 bulan.
Kyai Abdul Wahab merupakan kyai terakhir bertabligh di Mojosari sampai sekarang.
Dari
situ beliau ada ketertarikan untuk mencoba mengamalkan ilmu beliau di Desa
Mojosari, akan tetapi beliau mencari cara apa penyebab dari kegagalan para
Kiyai sebelumnya yang tidak bertahan lama ketika menyebarkan Ilmu dai Desa
Mojosari. Kemtudian beliau mendekati tokoh agam yang ada di tetangga Desa
Mojosari yaitu Mbah Wahab yang ada di Desa Dilem :
“Mbah
wonten nopo kok di Deso Mojo iku lek ono Kiyai nyebarno ‘ilmune tapi orak suwe,
oh jarene mbah wahab iku mergo di deso mojo iku mang wonge blok-blokkan. Lek
blok kidul ono pengajian blok lor orak gelem melu bahkan yo opo carane
ngerusak penhajian mang, sewalike podo lek blok lor ono pengajian blok kidul
orak gelem melu''
Dari
keterangan diatas menunjukkan bahwa di Desa Mojosari terdiri dari firqoh-firqoh
yang hubungannya tidak saling harmonis, sehingga sulit bagi para Kiyai untuk
menyebarkan ilmunya di daerah tersebut.
Dari
situ KH M.S. Abdul Wahab sudah memahami permaslahannya dan sudah mencari jalan
keluar dan solusi bagaimana mengatasinya, yaitu dengan cara mengadakan
pengajian di blok kidul (selatan) dan di blok lor (utara)
dengan demikian sedikit demi sedikit KH. M.S. Abdul Wahab telah menghilangkan
blok-blok tersebut dan bisa menyebarkan ilmu agam di daerah Mojosari.
(Penuturan beliau 23 agustus 2010).
Kedatangan KH.Ms.Abdul Wahab di Mojosari semula hanya mengunjungi muridnya yang
bernama M. Husen. Dia murid beliau di Kricaan Mesir kecamatan Salam Muntilan
Magelang. Pada saat itu beliau mengajar dan diberi mandat penuh oleh kyai
pondok tersebut yaitu kyai Nur Salim. Sebelum pulang murid beliau tersebut
meminta pada kyai untuk dapat berkunjung kerumahnya, dan kyai menjanjikannya.
Karena keinginannya yang begitu besar supaya kyai mau berkunjung kerumahnya
saat itu, Bapak Husen memberikan uang kepada kyai sebesar Rp. 100,- dan
sebuah kacamata sekedar untuk tambahan ongkos perjalanan.
Tahun 1962 tepatnya bulan Syawal kyai memenuhi janjinya untuk berkunjung ke
rumah Bapak Husen. Pada awal kedatangannya, beliau menyamar sebagai pembantu
Bapak Husen (santrinya). Beliau mulai dengan latihan kerja keras, mencangkul
dan menggembala ternak, beliau juga meminta kepada Bapak Husen untuk
memperlakukannya sebagai pembantu, serta melarang Bapak Husen memanggil beliau
dengan sebutan kyai atau guru. Sedang beliau memanggil Bapak Husen sebagaimana
memanggil seorang majikan. Penyamaran ini dilakukan kurang lebih dua
bulan.
Masyarakat pada saat itu tidak menyangka bahwa beliau seorang kyai, karena
beliau setiap keluar dari rumah Bapak Husen selalu mengenakan baju milik
pembantu Bapak Husen yang sedang pulang ke rumah. Berakhirnya masa penyamaran
atau diketahuinya identitas beliau yaitu pada saat sholat jum’at dimana imam
yang menjadi khotib tidak hadir. Waktu itu yang menjadi khotib adalah bapak
haji Khusairi yang dalam keadaan sakit. Sedang bapak haji Masykuri yang biasa
menjadi imam pindah ke dusun Pepen. Dengan kekosongan imam tersebut dan
dorongan akan kewajiban sekian banyak warga yang melaksanakan sholat jum’at
akhirnya beliau dengan terpaksa tampil untuk menggantikan imam dan khotib yang
berhalangan, dan sekaligus berakhirlah masa penyamaran beliau.(Arsip catatan
pribadi putrinya Neng Lu’luin Nisa)s.
Pada hari sabtu malam Minggu, ada anak minta kepada beliau untuk belajar
mengaji yaitu; Mahfud, Mahmud, Ihsan dan Slamet. Dan saat itu diberi
pelajaran hanya sekedarnya saja, kyai berjanji akan memulai belajar pada hari
Rabu. Anak yang ingin belajar mengaji semakin bertambah, pada hari Senin
menjadi 8 anak. Jatuh pada hari yang dijanjikan yaitu hari Rabu menjadi 29
anak. Tempat pertama kali belajar mengaji di rumah Bapak Husen kampung masjid.
Pada pertengahan bulan Besar tahun 1962 masyarakat meminta diadakan pengajian
umum (majlis ta’lim), tetapi beliau menjanjikan kepada mereka pengajian umum
untuk orang-orang tua dimulai pada tanggal 10 bulan Muharom.( Adapun
pemrakarsa pengajian umum itu adalah Pak Sri (H.Abdul Karim), pak Karto, pak
Nyamar, pak Marsiman, pak Wakidi, pak H. Abdullah dan pak Kasim). Untuk
pengajian rutin orang-orangtua ini bertempat di mushola kampung barat (mushola
bapak Kastawi) yang dahulu dikenal dengan kampung lancar. Beliau menyebut
dengan kampung lancar karena masyarakatnya non blok. Karena saat itu terdapat
dua tempat untuk melaksanakan sholat jum’at dan lima tempat untuk melaksanakan
sholat hari raya. Semua itu disebabkan adanya perselisihan pribadi. Selanjutnya
pada bulan Shofar masyarakat mengusulkan agar anak mengaji dibentuk sistem
madrasah diniyah. Rencana ini terlaksana pada bulan Robiul awwal tahun
1962 bertempat di rumah Bapak Husen walaupun ala kadarnya, karena guru
mengajinya masih beliau sendiri dan membaginya menjadi 4 kelas, dan muridnya saat
itu bertambah naik ± 100 anak. Untuk murid yang belajar dengan sistem sorogan
berjumlah kurang lebih 150 anak.
Pada
tanggal 8 Agustus 1962 Madrasah pindah dari kampung tengah ke kampung barat.
Pengurus dan sekaligus pelopor madrasah adalah bapak H. Abdullah dan saudara
Husen. Pada bulan Ruwah tahun 1963 madrasah pindah lagi ke kampung timur di
rumah H. Fauzi, rumah bapak Rohmat dan rumah bapak Husen. Kepindahan ini
dikarenakan kyai menikah dengan seorang perempuan yang bernama Siti Marhamah
dan mengikuti bertempat tinggal di rumah mertua beliau, pernikahan berlangsung
saat beliau berusia 38 tahun sedang ibu Nyai Siti Marhamah berusia 13 tahun.
Perkembangan
madrasah semakin lama semakin meningkat, sehingga kyai Abdul Wahab meminta
bantuan kepada murid pertamanya diantaranya ; Abdul Latif, Kastoha, Sofyan,
Sauri dan Ihsan.
Pada
bulan Syawal 1963 ada anak ingin belajar dan menetap (istilah jawanya mondok)
yaitu ; Turmudzi, Hamami dan Ali mereka ini berasal dari Nganjuk. Karena saat
itu belum ada tempat untuk menginap (guthe’an) akhirnya mereka
ditempatkan di rumah H. Ali (mertua kyai).
Pada
tahun 1963 kyai membangun gedung madrasah sebanyak tiga lokal didepan rumah
mertua kyai. Pelaksanaan pembangunan gedung tersebut, diawali dengan peletakan
batu pertama yaitu hari jum’at legi tanggal 20 Juli 1963 (bulan Dzulhijah).
Adapun sebagai pelaksana pembangunan adalah bapak Nyamar, bapak Rohmat dan
bapak Kasim. Sedangkan bagian kosumsi adalah ibu Nyai Karsimah (ibu Hj. Fatimah
Ali).
Awal
tahun 1964 kyai bersama istrinya pindah rumah lagi dari kampung timur ke
kampung utara. Alasan pindah karena sekitar rumah mertua beliau (H. Ali) tidak
memungkinkan untuk perluasan bangunan pondok, rumah dan madrasah. Tepat tanggal
10 Juli 1964 kyai membuat rumah pertama. Kyai Abdul Wahab merupakan salah
seorang kyai jawa yang mengenal banyak ilmuu-ilmu kejawen, misalnya
hitungan hari berdasarkan pasarannya . Hal ini sebagaimana catatan beliau
setiap kali mendirikan dan membuat bangunan, penggalian pondasi rumah
dilaksanakan pada hari Senen pahing 1964. Peletakan batu pertama pada
hari Kamis kliwon tahun 1964. Hal seperti ini sering beliau lakukan untuk
bangunan-bangunan yang lain. Bangunan rumah pertama ini dihuni oleh keluarga
kyai santri pondok dan santri kalong (santri yang tidak menetap di pondok).
Karena
semakin banyaknya anak mengaji dan menetap di rumah kyai, akhirnya bagian
serambi depan (bale rumah) diberi tempat pengimaman, yang berfungsi sebagi
tempat ibadah (musholla) sekaligus untuk tempat belajar para santri. Hal ini
terjadi tepat pada bulan Agustus 1965.
Santri
yang belajar dan pengajian rutin yang diadakan di rumah kyai semakin bertambah
jumlahnya, masyarakat menyebut rumah beliau sebagai pondok. Dan akhirnya pada
tanggal 8 Agustus 1965 diadakan pengajian umum dengan mendatangkan mubaligh
dari Kepanjen yaitu bapak Asnan Qodri. Karena mengetahui bahwa masyarakat
menyebut rumah kyai sebagai pondok, maka bapak Asnan Qodri menyarankan kepada
kyai untuk mencari nama yang tepat bagi pondok beliau ini. Kemudian kyai
meminta petunjuk dari Allah dengan wasilah fatihah kepada guru beliau yaitu KH.
Ghozali Manan, akhirnya dipilih nama “Pondok Pesantren Miftahul Huda”.
Dan nama ini diresmikan oleh bapak Asnan Kodri pada pengajian umum saat itu
juga.
Berhubung rumah kyai sudah menjadi pondok pesantren dan mushola, kemudian
sebagai alternatif berikutnya beliau membuat rumah lagi. Pembuatan rumah kedua
ini tepatnya pada hari Senin Pahing, mulai penggalian pondasi dan peletakan
batu pertama pada hari Kamis Kliwon bulan Agustus tahun 1965.
Data Proses Pendirian
Pondok Pesantren Miftahul Huda (secara fisik)
Data
Proses Pendirian Pondok Pesantren Miftahul Huda
14
April 1962
Tanggal
8 dzuldo’dah hari sabtu kliwon pertama kali ada anak mengaji
18
April 1962
Tanggal
13 dzulqo’dah hari rabu wage mulai pelajaran (mengaji) sistem langgar bertempat
dirumah sdr Husen
13
Juni 1962
Tanggal
10 muharram hari rabu kliwon berdiri pengajian umum rutin bertempat di rumah
sdr Husen
7
Agustus 1962
7
robi’ul awwal hari rabu legi pelajaran dirintis menjadi sistem madrasah
20
Juli 1963
Tanggal
27 syawal hari jum’at legi peletakan batu pertama gedung madrasah (3 lokal) di
kampung selatan
10
Juli 1964
Senin
pahing pemasangan acir langgar PPMH
13
Juli 1964
Kamis
kliwon peletakan batu pertama langgar PPMH
8
Agustus 1964
Penyaksian
nama PPMH dengan mengadakan pengajian umum dengan pembicara bapak Asnan Qadri
26
Agustus 1965
Pemasangan
acir pembangunan rumah
30
Agustus 1965
Peletakan
batu pertama untuk rumah
Tahun
1967
Jeding
PPMH dibangun
15
Agustus 1968
Peletakan
batu pertama gedung (guthe’an) mulai kamar 11 sampai sebelah timur
Tahun
1969
Dapur
rumah
Tahun
1970
Guthe’an
putrid kamar utara
Tahun
1972
Guthe’an
putra sebelah selatan langgar
Tahun
1973
Guthe’an
putri timur
Tahun
1974
Guthe’an
putra timur
Tahun
1975
Balai
rumah
Tahun
1976
Rehab
dapur
Tahun
1978
Rehab
langgar atau pelebaran
Tahun
1979
Bangun
emper langgar
Tahun
1980
Guthe’an
sebelah barat balai
Tahun
1981
Rehab
emperan guthe’an timur
Tahun
1983
Dapur
pondok putra
Tahun
1984
Kantor
Tahun
1985
Emper
kantor
Tahun
1987
Membangun
gedung MTs
Tahun
1991
Membangun
gedung MA
Tahun
1998
Membangun
gedung STM
Tahun
2000
Membangun
PPMH II
Tahun
2004
Membangun
PPMH III
Sumber
: Arsip Pondok Pesantren Miftahul Huda 2004
Struktur Organisasi
Struktur adalah susunan dari beberapa orang dalam suatu organisasi atau
kepengurusan. Dimana hal ini sangat diperlukan dalam suatu organisasi atau
lembaga. Apalagi lembaga pendidikan seperti Pondok Pesantren Miftahul Huda.
Yang memiliki tujuan untuk menjaga kelestarian, ketertiban dan keharmonisan
antar pengurus, kyai dan santri. Sebagaimana yang disampaikan oleh KH.Ms.Abdul
Wahab selaku pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda :
‘’Susunan pengurus di
pondok ini selain tokoh-tokoh masyarakat juga dari santri-santri senior untuk
melatih mereka melaksanakan tanggung jawab. Karena mereka nanti adalah calon
seorang pemimpin dimasa mendatang, sebelum mereka terjun kelapangan
(masyarakat) mereka bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan kepadanya’’
Dari keterangan KH. Abdul Wahab diatas bahwa struktur organisasi di
Pondok Pesantren Miftahul Huda disamping untuk melatih bertanggung jawab pada
sebagian santri, yang penting adalah untuk menjalankan program sebagai lembaga
pendidikan. Karena bagaimanapun dalam menjalankan suatu lembaga harus ada
struktur organisasi yang jelas.
Karena tanpa didukung oleh
kepengurusan yang kuat keberadaan lembaga pendidikan yang telah lama berdiri
lama-kelamaan akan hancur di serang oleh kelompok-kelompok atau orang yang
bersebrangan dengan lembaga tersebut. Dalam menjalankan organisasi semua yang
terkait harus saling bekerjasama dan berkordinasi dengan baik, karena satu
tidak jalan maka yang lainpun akan merasakan imbasnya.
Lembaga yang sudah berhasil
menjalankan roda struktur organisasinya akan berdampak pada kelangsungan
lembaga-lembaga yang dinaunginya. Orang lainpun akan segan melawan karena sudah
kuat, bisa jadi disegani oleh organisasi lainnya. Lembaga yang dinaunginya akan
dapat berjalan secara baik dan maksimal.
Untuk mengetahui stuktur
organisasi Pondok Pesantren Miftahul Huda secara kongkrit dapat dilihat pada
halaman lampiran.
Sarana dan Prasarana
Fasilitas
Gedung
1).
Mushola 2 buah.
2). Asrama
pondok putra dengan gedung bertingkat yang terdiri dari 22 kamar.
3). Asrama
pondok putri 2 buah yang terdiri dari 23 kamar.
4). Gedung
madrasah Aliyah 1 buah yang terdiri dari 6 lokal.
5). Gedung
Madrasah Tsanawiyah 2 buah yang terdiri dari 10 lokal.
6). Gedung
Madrasah Ibtdaiyah 1 buah yang terdiri dari 3 lokal.
7). Gedung
Roudlotul Atfal (RA) 1 buah yang terdiri dari 3 lokal.
8). Gedung
aula untuk pertemuan 1 buah.
9). Kantor
Pondok.
10).
Kantor MA dan MTs.
11).
Perpustakaan.
12).
Ruang Laboratorium (IPA) dan ketrampilan.
13).
Laboratorium Bahasa (audio visual)
14).
Ruang Komputer.
15).
Kantin 2 buah.
16).
Fasilitas Olahraga.
17).
Lapangan bola voli dan sepak bola.
Ekstra
kurikuler
1).
Forum Sholawat 3 unit
2).
Seni Beladiri Pagar Nusa
3).
Otomotif dan Elektro
4).
Menjahit
5).
Belajar Tilawatil Qur’an
6).
Komputer
7).
Sepakbola
Fasilitas Kegiatan Belajar
Mengajar (berupa mebel dan alat teknologi informasi)
1).
Bangku dan meja belajar
2).
Kursi guru
3).
Meja guru
4).
Komputer
5).
Telepon
6).
Sound sistem
7).
Mesin jahit
8).
Sepeda motor untuk praktek
9).
Alat praktikum IPA dan
Falkiyah
Seiring
dengan perkembangan jumlah santri yang semakin pesat dari tahun ketahun dan
perkembangan pendidikan yang semakin meningkat, maka perlu kiranya sarana fisik
Pondok Pesantren Mifathul Huda lebih ditingkatkan lagi. Memang sejak berdirinya
(tahun 1964) sampai sekarang pembangunan berlanjut terus menerus walaupun
dengan cara bertahab. Hal ini patut disyukuri karena pada tahun berdirinya
yakni pada tahun 1964 hanya bangunan sebuah rumah kyai dan sekaligus dijadikan
tempat sholat, dan disekat dibuat kamar para santri saat itu. Pengasuh dan
pengurus tidak pernah putus asa untuk mengupayakan peningkatan dan kemajuan
lembaga pendidikan di Pondok Pesantren Mifatahul Huda dan tentunya dengan
dukungan masyarakat sekitar, maka sampai saat ini telah berdiri beberapa bangunan
atau sarana dan prasarana sebagaimana data diatas.
1. Kegiatan sehari-hari
2. Masyarakat desa Mojosari
Keseharian masyarakat
setempat tak jauh beda dengan yang dilakukan oleh kebanyakan masyarakat
lainnya, mulai pagi hingga petang. Dan untuk jelasnya kami tampilkan tabel
kegiatan sehari-hari masyarakat secara umum berikut ini:
Kegiatan Harian
Kegiatan
Pelaksana
07.00-11.30
Ke profesi pekerjaan
masing-masing (sawah, kantor, pedagang, dan lain-lain)
Masyarakat
11.30-12.00
Sholat dzuhur
12.00-15.00
Istirahat (pada umumnya)
15.00-15.30
Sholat ashar
15.30-14.30
Mengaji kemajlis ta’lim
14.30-17.45
Istirahat
17.45-18.15
Sholat maghrib
18.15-19.00
Ke majlis ta’lim
19.00-22.00
Mendampingi belajar
putra-putrinya
22.00-04.00
Istirahat
04.00-05.00
Sholat subuh
05.00-07.00
Ke pasar atau sejenisnya
‘’Pada umumnya bagi mayarakat
yang bekerja di kantor atau pabrik waktu kerjanya tidak sama dengan petani pada
umumnya’’
Lingkungan
Pondok Pesantren Miftahul Huda
Kegiatan
Harian
1 Kegiatan
harian adalah kegiatan rutinitas yang diikuti oleh semua santri
Pondok Pesantren Miftahul Huda, diantara yang termasuk kelompok kegiatan harian
adalah :
Pendidikan
Formal
Antara
pukul 07.00 ist sampai 12.45 ist santri yang sekolah umum mulai dari MI, Mts,
MA dan STM mengikuti pelajaran di kelas masing-masing begitu juga.
Pendidikan
Non Formal (diniyah)
Santri
Pondok Pesantren Miftahul Huda memang sebagian besar mengikuti pendidikan
formal namun mereka juga wajib mengikuti pelajaran diniyah. Adapun waktunya
setelah sholat fardu kecuali setelah sholat dhuhur. Karena setelah sholat
dhuhur digunakan untuk istirahat. Disamping pelajaran diniyah untuk santri
senior juga ada kegiatan balagh yaitu pengajian tambahan kitabnya terdiri dari
Ihya’ ‘Ulumuddin, Fathul Whab, Hikam, Iqna’, Kifayatul ahkyar, Nashoihul Ibad,
Tafsir Jalalen, dan manahijul Imdad.(belajar kitab-kitab klasik) waktunya mulai
pukul 21.00 sampai 23.00.
Pendidikan
yang tidak terikat
Artinya
pendidikan yang menurut istilah anak pesantren adalah pendidikan yang
dikerjakan setiap apa saja yang diperintahkan oleh sang guru (kyai) yang
dilandasi dengan niat ibadah yang bersifat Man Sya’a baik itu
berupa kerja langsung ataupun tak langsung. Misalnya kerja bersama (ro’an),
ngawulo (bahasa jawa : ikut kyai), dan lain sebagainya.
2).
Kegiatan Mingguan
Kegiatan
ini bersifat umum dan khusus yaitu :
a.
Bersifat Umum
1)
Latihan khitobah
Kegiatan
ini bertujuan untuk melatih dan menyiapkan tenaga santri yang dapat tampil
dihadapan masyarakat umum dalam berbagai acara apa pun, oleh karena itu santri
yang bertugas mengisi acara tersebut betul-betul disiapkan dan diberi pembekalan
dari tiap kelas masing-masing. Dan untuk pelaksanaannya yaitu dengan cara
dikumpulkan para santri (putra dan putri) pada hari sabtu malam ahad diaula
untuk mengikuti dan mendengarkan temannya yang ketepatan mendapat undian atau
giliran untuk mengisi acara.
2)
Seni Baca Al-Qur’an
Kegiatan
ini dilaksanakan setiap Minggu sore setelah sholat ashar dan diikuti oleh
santri putra putri dari tingkat wusto keatas, dan untuk awaliyah belajar di
kelas masing-masing. Dalam kegiatan ini pengurus mendatangkan guru dari luar
disamping menjaga kwalitas juga memberi motifasi kepada santri. Namun untuk
saat ini masih ditangani oleh pengurus Intern sendiri.
3)
Baca Yasin dan Dibagh/ barzanji bersama
Pada
malam Jum’at sekolah diniyah memang libur setelah sholat isya’ semua santri
mengikuti kegiatan membaca dibagh dan barzanji. Kegiatan ini dibagi menjadi dua
kelompok putra dan putri. Santri putra bertempat dimushola putra dan santri
putri bertempat di mushola putri.
1. Bersifat Khusus
Seperti
halnya Majlis Ta’lim, kegiatan ini menurut penuturan beliau KH. Abdul Wahab,
adalah“Pengajian Rebuan” yang dikarenakan pelaksanaannya setiap malam Rabu,
peserta pengajian ini khusus untuk masyarakat setempat ( wong kampung ) dari
kalangan apa pun dan desa manapun boleh mengikutinya. Kebanyakan mereka adalah
orang-orang yang sudah berkeluarga dari masyarakat Mojosari dan sekitarnya.
Bahkan ada yang dari luar kecamatan Kepanjen.
3).
Kegiatan Bulanan
a.
Pengajian rutin Ahad Wage
Pengajian
ini dilaksanakan setiap ;
Hari
: Ahad Wage
Waktu
: Pagi
mulai pukul 08.00 sampai pukul 11.30 wib.
Pembicara
: K.H. Syaifudin Zuhri, K.H. Masdar Fauzi
dan K.H.Ms. Abdul Wahab.
Peserta
: Wali santri , santri dan umum
Pengajian
ini memakan waktu cukup lama, karena rangkaian acaranya cukup padat mulai dari
pembacaan ayat suci al-qur’an serta penampilan anak-anak RA dan MI kemudian
dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan cermah agama yang mendatangkan muballigh
dari luar . Dan terakhir ditutup dengan do’a oleh KH. Abdul Wahab, namun
biasanya sebelum do’a ada kesempatan bagi para mustami’in untuk mengajukan
pertanyaan sehari-hari semacam bahtsul masail kepada romo kyai.
b.
Pengajian rutin Ahad Legi
Hari
: Ahad Legi
Waktu
: Pagi
mulai pukul 08.00 sampai pukul 11.30 wib.
Pembicara
: K.H.Ms. Abdul Wahab.
Peserta
: santri dan alumni
Pengajian
ini mengkaji kitab Sulam Taufiq dan kitab fiqih lain. Di samping mengaji,
moment ini juga dimanfaatkan untuk komunikasi atau silaturahmi para alumni
dengan kyai untuk tetap menjalin komunikasi terkait dengan masalah di pondok
maupun dengan luar pondok.
c. Istighotsah
Hari
: Ahad Legi
Waktu
: Pagi
mulai pukul 08.00 sampai pukul 11.30 wib.
Pemimpin
: K.H.Ms. Abdul Wahab, atau Gus
Usman B, atau H. Abdullah
Peserta
: Umum,
santri, dan wali santri
Untuk
kegiatan istighosah dilaksanakan setiap malam Ahad Legi. Waktunya setelah
sholat maghrib, peserta (jama’ah) istighosah adalah umum semua santri wajib
mengikuti dan masyarakat sekitarnya. Tempatnya di mushola putra dan aula,
tujuan diadakannya istighotsah ini adalah untuk melatih diri atau jiwa supaya
dapat mendekatkan diri kepada Allah swt serta untuk sarana untuk muhasabah (intropeksi
diri) atau memohon ampun kepada sang pencipta atas dosa-dosa yang
diperbuat.
4).
Kegiatan Tahunan
a.
Haflah Akhirissanah
Kegiatan
ini biasa dilaksanakan pada ;
Hari
: menyesuaikan (kondisional)
Waktu
: Pagi
mulai pukul 06.00 sampai pukul 12.00 wib.
Tanggal
: 25 Sya’ban
Pembicara
: menyesuaikan
Peserta
: Wali santri , santri, alumni dan umum
Kegiatan
ini diadakan sebagai moment rasa syukur pondok pesantren dalam kiprah dan
perjuangannya di sisi kehidupan sehari-hari. Acara ini dimanfaatkan oleh para
alumni, santri untuk temu kangen dengan teman sejawat terdahulu , baik dalam
teman mengaji atau teman di sekolah.
Dengan
demikian, acara ini dianggap sangat begitu penting bagi semua kalangan sehingga
tak sedikit yang menyempatkan dirinya untuk terus hadir, dan para mustami’in
pun cukup banyak yang datang tiap tahunnya seiring dengan banyaknya santri dan
para alumninya.
b.
Lomba Umum
Kegiatan
ini biasa dilaksanakan pada ;
Hari
: menyesuaikan (kondisional)
Waktu
:
Malam, ba’da sholat Isya’ sampai pukul 11.00 ist.
Tanggal
: 15 Sya’ban ( 10
hari sebelum hari H)
Peserta
: santri
Lomba
umum adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk memotifasi para santri di bidang
pelajaran atau sekedar menghilangkan kejenuhan. Supaya dapatnya lebih semangat
dalam belajar di pondok pesantren.
Kegiatan
ini digelar untuk memeriahkan acara haflah akhirissanah yang setiap tahun pasti
diadakan tersebut. Lomba yang disajikan pun beraneka ragam mulai dari antar
kamar ( dibagh, tahlil, praktek aqad nikah, kebersihan kamar, sepak
bola dan lain-lain) maupun antar pribadi santri itu sendiri seperti
lomba MTQ, pidato, puisi, hafalan Yasin atau banyak yang lainnya.
1) Istighotsah
Kubro
Kegiatan
ini biasa dilaksanakan pada ;
Hari
: menyesuaikan (kondisional)
Waktu
:
Malam, ba’da maghrib sampai selesai.
Pemimpin
: K.H. Ms. Abdul Wahab atau yang
mewakili.
Tanggal
: 1- 4 suro (Rojab)
Peserta
: santri dan umum
2) Puasa
Puji Dino
Kegiatan
ini biasa dilaksanakan pada ;
Hari
: menyesuaikan (kondisional)
Waktu
: 7
hari.
Tanggal
: Menyesuaikan ( hari
ahad pertama dari bulan Muharrom)
Peserta
: santri dan alumni
Hal
ini dilakukan supaya dapat melatih diri pribadi santri yang mandiri yang mau
berusaha sungguh-sungguh dalam mengukir masa depannya sendiri. Seseorang pasti
mampu mengangkat derajat dan martabatnya sendiri asalkan mau mengoptimalkan dan
memberdayakan kemampuan yang telah tertanam di dalam kepribadiannya. Dan salah
satu usaha untuk meweujudkan impian tersebut para santri di Pondok Pesantren
Miftahul Huda melatihnya dengan puasa Puji Dino.
Keadaan
Guru (Asatidz) Pesantren Miftahul Huda
Daftar
nama Asatidz dan Asatidzah
Pondok
Pesantren Miftahul Huda tahun 2005
Mutkharrij/
Lulusan
Alamat
Usman
Badarudin, SPdI
PP
Miftakhul Mubtadiin Nganjuk
Mojosari
Kepanjen
Siti
Maslihatul Badriyah, SPdI
PP
Miftakhul Mubtadiin Nganjuk
Mojosari
Kepanjen
Fadil
Ghozali
PP
Hidayatul Mubtadiin Lirboyo
Bendo
Pagak
Shofiyulloh,
ST
PP
Sirotul Fuqoha’ Gondanglegi
Karangasem
Gdlg
Imam
Arifin, SPdI
PP
Miftahul Huda Mojosari
Urek-Urek
Gdlg
Ummul
Ma’rifah
PP
Miftakhul Mubtadiin Nganjuk
Mojosari
Kepanjen
H.
Abdul Haris
PP
Al-Falah Ploso Kediri
Mojosari
Kepanjen
Abdul
Kholiq,SPdI
PP
Miftahul Huda Mojosari
Bayem
Kutoarjo
Burhanudin,SPdI
PP
Miftahul Huda Mojosari
Kalimantan
Barat
Ah.
Nurhadi, SPdI
PP
Miftahul Huda Mojosari
Gondang
Legi, Malang
Nur
khoironi, SPdI
PP
Miftahul Huda Mojosari
Wagir,
Malang
Muh.
Kholili
PP
Miftahul Huda Mojosari
Wagir
Malang
Rudi
Hartono, SPdI
PP
Miftahul Huda Mojosari
Ngadilangkung
Kpj
Ah,
Syafi’i
PP
Miftahul Huda Mojosari
Kota
Lama, Malang
Gus
Imam Maftuh Alifi,SPd.I
PP
Miftahul Huda Mojosari
AN-NUR
Munayaroh,
SPdI
PP
Miftahul Huda Mojosari
Donomulyo,
Malang
Umi
Halimah, SPdI
PP
Miftahul Huda Mojosari
Tumpang,
Malang
Harirotul
Abidah
PP.
Miftahul Huda Mojosari
Songosari
Malang
Iis
Shilihati
PP.
Miftahul Huda Mojosari
Gunung
Kawi Malang
Sumber
: Arsip PPMH 2010
Respon
Masyarakat terhadap kehadiran pendidikan Pondok Pesantren Miftahul Huda
Sebagai
bentuk keberhasilan KH. Ms. Abdul Wahab mengembangkan Islam di Mojosari adalah
salah satunya dengan berdirinya pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Huda.
Kehadiran
pendidikan Pondok Pesantren Miftahul Huda menurut beliau KH. Abdul Wahab :
“
Memang kadang kurang bisa dipahami oleh sebagian masyarakat, mereka ada yang
beranggapan bahwa pondok pesantren mau dijadikan rumah kos-kosan. Namun sebagian
besar masyarakat bisa memahami akan perkembangan dunia pendidikan
terutama yang ada di lingkungan pondok pesantren.
Apa
yang disampaikan oleh beliau KH.Abdul Wahab memang sesuai dengan apa yang
disampaikan oleh bapak K.H.Ali Bashori sebagai pengurus Pondok Pesantren
Miftahul Huda. Beliau mengatakan:
Menurut
saya:” pendidikan di pondok pesantren ini. Pada masa mulai berdirinya (1964)
sampai tahun 1986 pengajian kitab-kitab salaf memperoleh kehormatan yang tinggi
dan diminati oleh semua santri.
Menurut
bapak H. Mustaqim selaku tokoh masyarakat beliau mengatakan:
“Dengan
adanya pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Huda, cucu saya yang
belajar di pondok tambah giat dan disiplin, karena ia takut kalau alpanya
banyak dan nilai raportnya jelek yang akhirnya tidak naik kelas.”
Lain
lagi dengan yang dikatakan bapak Su’eb sebagai tukang ojek yang mangkal di
Brak, ia mengatakan :
“santri
yang mondok di Pondok Pesantren Miftaul Huda semakin banyak. Dan kami sebagai
tukang ojek penghasilannya juga meningkat. Apa lagi dihari Ahad wage, karena
pada hari itu banyak wali murid yang mengikuti pengajian dan sekaligus
menjenguk anaknya.
Dengan
berbagai sumber diatas, maka bisa dikatakan bahwa kehadiran Pondok Pesantren
Miftahul huda sebagai bentuk usaha dari pengembangan Islam di desa
Mojosari sudah dapat membuahkan hasil yang dapat menyentuh di kehidupan
masyarakat setempat.
Beliau
selama mengembangkan Islam di desa Mojosari ini memang belum pernah menyinggung
perasaan warga setempat dengan hukum-hukum Islam yang kaku, melainkan mengikuti
perkembangan Islam masyarakat dengan hukum-hukum Islam yang lunak. Misalnya :
tidak pernah mengatakan secara langsung bahwa berjudi, tidak sholat itu dosa
besar dan akhirnya masuk neraka dan di siksa. Dengan semboyan apa beliau
mengembangkan Islam di Mojosari, yaitu : dengan mengibaratkan penyebaran Islam
itu seperti menanam benih kebaikan (ibadah) saja terus-menerus, nanti
lama-kelamaan akan tertutup juga kejelekan yang ada. Dan pada akhirnya beliau
berkata :
“
saya baru bisa merasakan panen (berhasil) itu sekitar tahun 1992, dan baru
mulai tahun itu saya berani mengatakan bahwa yang ini salah(dosa) dan itu benar
(pahala)”.
Dan
dari pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Huda ini banyak dihasilkan lulusan
yang berkualitas. Sebagaimana yang dialami oleh Ustadz Ali Sueb alumni Pondok
Pesantren Miftahul Huda yang tinggal di dusun Pepen, saat ini mengelola
sebuah TPQ dengan murid ± 150 anak. Menurut beliau :
”Saya
ini mengembangkan pengalaman di waktu saya belajar dan mengajar di Pondok
Pesantren Miftahul Huda dulu. Alhamdulillah bisa saya terapkan pada anak-anak
dusun Pepen.”
Dari
beberapa pendapat di atas sebagian besar masyarakat merespon positif terhadap
pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Huda .
B.
Konsep K.H.M.S. Abdul Wahab Dalam Mengembangkan Pendidikan Islam Di Pondok
Pesantren Miftahul Huda
1 Tujuan
Pendidikan Islam
Tujuan
pendidikan agama Islam K.H. M.S. Abdul Wahab menjadikan santri yang berwawsan
tinggi (kedepan), dan bagi yang sudah mempunyai wawasan tinggi di bekali dengan
ilmu agama. Sebagaimana ucapan beliau :
“Ketika
sek nang pondok aku duwe cito-cito gawe pendidikan sing sentral, yang tujuane
mengintelektualkan para santri dan mensantrikan para intelektual”
Akan
tetapi kosep pendidikan beliau tidak lepas dari pengaruh pemikiran gurunya
yaitu K.H. Ghozali Manan Krempiyang, yaitu baik dari segi kependidikannaya,
kegiatan pengajian maupun proses penanganan santri, sebagaimana ucapan beliau :
“kabeh
pendidikan di pondokku iki tak kiblatno nang pondok krempiyang,sebagai bentuk
tawadu’ku ma guruku (K.H. Ghozali Manan).
Mempertahankan
kesalafan pendidikan Islam.
Dalam
khasanah pemikiran K.H.M.S. Abdul Wahab adalah melestarikan salah satu adagium
“harta warisan” yang dipakai NU sebagai patokan adalah : memelihara apa yang
baik dari masa lampau, dan menggunakan hanya yang lebih baik yang ada dalam hal
yang baru (al-muhaafadzatu ‘ala al-qadiimi al-shaalih wa al-akhdzu bi al-jadiid
al-ashlah)” (Pak Abdan Nafi’. Ketua MWC Kepanjen)
Dan
juga menurut K.H. Bashori Ali selaku adik ipar beliau:
Menurut
saya:” pendidikan di pondok pesantren ini. Pada masa mulai berdirinya (1964)
sampai tahun 1986 pengajian kitab-kitab salaf memperoleh kehormatan yang tinggi
dan diminati oleh semua santri.
Menjadikan
santri berguna bagi masyarakat
K.H.M.S
Abdul Wahab sering bahkan mengarahkan para santrinya supaya tidak meninggalkan
ilmu kemasyarakat, ilmu yang bisa diamalkan di msyarakata seperti tahlilal,
yasinan, istighozahan, hotmil Qur’an, diba’, barjanji dll
“santriku
tak bekali ilmu-ilmu sing ono kanggone di masyarakat koyok toh iso yasinan,
tahlilal, istighozah, hotmil Qur’an, diba’, barjanji, prokolol, qiro’ah”.
Dikarenakan
santri yang masuk di Pondok Pesantren Miftahul Huda kebanyakan santri
yang bermasalah baik di rumahnya maupun di masyarakatnya. K.H.M.S Abdul Wahab
sendiri menyatakan bahwa pondoknya diibaratkan seperti bengkel yang siap
menangani kerusakan. Sebagaimana ungkapan beliau :
“Pondok
iku ibaratno bengkel sing tugase ndandani santri, sehinggo lek ono santri sing
rusak kepingi mondok yo terimo ae”
1. Mengajarkan santri untuk
memuliakan dan cinta kepada ilmu dengan cara bertawadu’ atau
menghormaati guru / orang ‘alim dan ahli ilmu. Ini seringkali beliau lakukan
yaitu dengan mengutus ro’an (kerja bakti) dan juga ngawulo (mengabdi
ke Yai)seperti menjadi juru masak untuk Yai dan para santri, juru bersih ponok,
petugas spertanian, petugas peternakan
2. Konsep Guru menurut pandangan
K.H.M.S. Abdul Wahab
1. Guru merupakan sosok pemimpin
yang bisa dijadikan contoh (uswatun hasanah) bagi santrinya, serta bisa
mengarahkan santrinya kepada akhlakul karimah.
''Yai
tu punya sosok kepemimpinan dan jiwa kependidikan yang tinggi, gak banyak
bicara tapi banyak memberikan contoh karna Yai itu menerapkan hadis nabi
“Lisanu al-hali afdlalu min lisani al-maqaali’ (Abdan Nafi’).''
Memberi manfaat untuk kehidupan akhirat yang kekal (langkeng)
dengan maksud mengajarkan ilmu akhirat atau ilmu dunia dengan tujuan untuk
kepentingan akhirat tapi tidak meninggalkan urusan duniawi. Yaitu dengan cara
mengadakan aktifitas para ulama-ulama kuno seperti thoriqoh, istighozah,
pengajian rutin ahad wage, manakiban.
Konsep
murid menurut pandangan K.H. M.S. Abdul Wahab
1. Membersihkan
diri dari perilaku yang hina. karena sering kali beliau berpesan (ngendiko)
kepada santrinya jika sedang gotong royong (bahasa pondoan ro’an)
harus niat membersihkan hati dan ilmu. Membersihkan ilmu di sini dalam arti
membersihkan dari ilmu-ilmu yang di luar dari syari’at Islam.
2. Harus
meningkatkan kedisiplinan ilmu dan waktu. Karena beliau mempertegaskan kepada santrinya
santri harus masuk kelas paling lama 5 (lima) menit setelah kenteng / bel
mengaji.
3. Harus
memiliki akhlak yang bagus. Karena setiap kali ada santri yang melakukan
kesalahan sedikitpun beliau langsung mengumpulkan semua santri dan memberikan
pengarahan.
4. Memiliki
rasa hormat kepada Kiyai, keluarga Kiyai dan guru, bahkan kepada teman
seniornya.
5. Metode
pengajaran K.H.M.S Abdul Wahab
1. Menerapkan
kasih sayang kepada santrinya. Sering kali santrinya di ajak kumpul (jagongan),
bahkan diajak makan bersama.
2. Sebelum
menyampaikan materi kepada siswa seorang guru harus terlebih dahulu muthala’ah
atau mempraktekannya. Ini sering dilakukannya ketika akan mengajar al-Qur’an
beliau membacakan terlebih dahulu.
3. Seorang
guru tidak boleh menyalahkan murid walaupun seorang murid kelihatan salah akan
tetapi dicarikan solusinya. Sebagaimana perkataan beliau :
“lek
kate ngilangi suket lalang ojo di bakar atau di babati soale malah tambah okeh,
tapi golekno tumbuhan sing gede sing iso ngalahno suket lalang iku maeng”
C.
Implementasi Konsep Pendidikan Agama Islam K.H. M.S, Abdul Wahab Di Pondok
Pesantren Miftahul Huda
Tujuan
pendidikan
Konsep
pendidikan K.H.M.S Abdul Wahab yaitu mengintelektualkan para santri dan
mensantrikan para intrlrktual yaitu untuk menintelektualkan para santri
diimplementasikan dengan bentuk mendirikan lembaga pendidikan formal terdiri
dari TK/RA. MI, MTs, MA, SMK. Sedangkan untuk mensatrikan para intelektual
diimplementasikan dengan bentuk memdirikan mendidikan diniyah (Pondok
Pesantren) yang terdiri dari Shifir (Shifir Ula dan Shifir Tsani), Ula (Ula I,
II, III), Wustho (Wustho I,II,III), ‘Ulya (‘Ulya I,II,III).
1. Mengadakan kegiatan rutinitas
yang biasa dilakukan oleh ulama’-ulama’ kuno seperti istighosah, manakiban,
pengajian umum.
2. Memberi bekal kepada santri
tentang ilmu-ilmu masyarakat seperti tahlilan, yasinan, adzan, bilal, khotbah,
qiro’ah, diba’ dan barjanji.
3. Konsep Guru K.H.M.S Abdul
Wahab di implementasikan dengan :
1. Guru
harus lebih banyak memberikan contoh terhadap pertauran-perturan yang telah
ditetapkan oleh pondok, misalnya bagi semua santri keluar lokasi pondok harus
membawa tanda bukti BIB (Bukti Izin Berpergian) yang telah ditanda tangani oleh
Pembina kamar, Lurah Pondok dan Pengasuh, oleh karena itu setiap kali guru akan
keluar lokasi pondok harus membawa BIB.
2. Membuat
jadwal khusus bagi kegiatan-kegiatan akbar baik yang bersifat harian, mingguan,
bulanan dan tahunan. Misalnya kegiatan
HARIAN
1. Ngaji Kitab
2. Ngaji Kitab setelah Maghrib
3. Ngaji Kitab setelah ‘Isya
4. Musyawaroh pelajaran sekolah
5. Ngaji Kitab
Ba’da
‘Asyar
Ba’da
Magrib
Ba’da
‘Isya
Ba’da
Ngaji ‘Isya
Ba’da
Subuh
MINGGUAN
1. Yasinan
1. Diba’
1. Latihan Pidato
1. Qiro’ah
2. Pengajian Rebuan
Malam
Jum’at ba’da Maghrib
Malam
Jum’at ba’da ‘Isya
Malam
Mingu ba’da ‘Isya
Jum’at
‘Asyar
Malam
Rabu ba’da ‘Isya
BULANAN
1. Pengajian Rutin Wali Santri
2. Manakiban
3. Istighozahan
Minggun
Wage pagi
Malam
minggu PON
Malam
minggu legi
TAHUNAN
1. Haflah Akhirus Sanah (IMTIHAN)
2. Puasa Puji Dino
1. Istighozah Kubro
25
Sya’ban
Hari
ahad pertama bulan Muharrom
Tanggal
1-4 bulan Rojab
1. Konsep murid K.H.M.S. Abdul
Wahab diiplementasikan dengan :
1. Memberi sangsi kepada santri
yang melanggar peraturan dengan membaca istighfar dan taubat,
2. Menngajarkan dan memberi
pengarahan untuk selalu berakhlakul karimah
3. Untuk meningkatkan
katawadu’an seorang santri kepada guru diimplementasikan dengan mengadakan
roa’an dan ngawulo kepada Kiyai.
4. Metode Pengajaran
1. Selalu mengawasi muridnya
dari perilaku yang hina
2. Menyiapkan materi pelajaran
dan akan di ajarkan, serta menyiapkan media pembelajaran
3. Selalu berdiskusi kepada
siswa baik mengenai pelajarannya maupun pribadinya.
4. D.
Faktor – faktor Pendukung dan Penghambat K.H.M.S Abdul Wahab dalam
mengaembangkan Konsep Pendidkan Islam Di Pondok Pesantren Miftahul Huda
5. 1.
Faktor Pendukung
6. a.
Faktor Intern
1)
Karena ke’aliman, ketelatenan serta kesabaran K.H.M.S. Abdul Wahab
2)
Penguasaan ilmu yang mendalam
Sebagaimana
yang telah diungkapkan oleh AbdanNafi’:
Yai
Wahab orangnya sabar, telaten, dan banyak mengusai ilmu agama seperti ilmu
fiqh, ilmu thoriqoh, ilmu tasawuf, ilmu hisab, ilmu alqu’ar, ilmu hadist.
Beliau juga ahli dalam ilmu kemasyarakatan”
3)
dorongan dari orang tua dan keluarga
FAKTOR EXTERN
1)
Respon yang positif dari warga masyarakat Mojosari
Pernyataan
K.H Ali Bashori
Menurut
saya:” pendidikan di pondok pesantren ini. Pada masa mulai berdirinya (1964)
sampai tahun 1986 pengajian kitab-kitab salaf memperoleh kehormatan yang tinggi
dan diminati oleh semua santri.
Menurut
H. Mustaqim selaku tokoh masyarakat
“Dengan
adanya pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Huda, cucu saya yang
belajar di pondok tambah giat dan disiplin, karena ia takut kalau alpanya
banyak dan nilai raportnya jelek yang akhirnya tidak naik kelas.”
2)
Metode pendidikan yang mudah diterima oleh santri
Ketika
menjelaskan suatu pelajaran K.H.M.S. Abdul Wahab sering megulang – ngulang
pelajaran sampai santrinya paham.
3)
Fasilitas yang lengkap
Di
pondok pesantren Miftahul Huda selain menyediakan sekolahan formal juga
menyediakan asrama pondok bagi santri serta di lengkapi dengan sarana dan
prasarana seperti LAB Bahasa, LAB IPA, LAB Komputer, dan kegiatan – kegiatan
pengengembangan bakat seperti, latihan pidato, speeking English, muhadasah,
terbangan, futsall dan karate.
By :
moh.nkri@gmail.com / sun2finez@yahoo.comarsip PPMH mifda1 Kepanjen Malang...
Tags: biografi kh ms abdul wahab kyai
mojo kepanjen jawatimur yayasan ppmh(pondok pesantren miftahul huda) sang
pencerah.KH.Ms.Abdul WahabKH.Ms.Abdul Wahab logo yayasan ppmh pondok
pesanten miftahulhuda mojosari kepanjenmalang jawa timur,kegiatan
ppmh,pendaftaran lembagara,mi,mts,ma,smk miftahul huda,logo all/semua.
Kesabaran merupakan
“dhiya’ ” (cahaya yang amat
terang). Karena dengan kesabaran
inilah, seseorang akan mampu
menyingkap kegelapan. Rasulullah
mengungkapkan, “…dan kesabaran merupakan cahaya
yang terang…” (HR. Muslim)
puasa ramadhan





Tidak ada komentar:
Posting Komentar